WORK IN PROGRESS

Sorry for any inconvenience caused We are currently in the process of reconstructing the sites in our network. Do come back often to check on the progress

Text Size
Article Index
Bagaimana Mencermati Anggaran
Mengapa Harus Sekarang&heading=Mengapa Harus Sekarang
Dari Mana Memulai&heading=Dari Mana Memulai
Apa Yang Perlu Dicermati&heading=Apa Yang Perlu Dicermati
Dengan Siapa Berdiskusi&heading=Dengan Siapa Berdiskusi
Bagaimana Menyampaikan Isu Anti Kemiskinan &heading=Bagaimana Menyampaikan Isu Anti Kemiskinan
Kapan Mendiskusikan Rancangan Anggaran&heading=Kapan Mendiskusikan Rancangan Anggaran
Kata Akhir&heading=Kata Akhir
All Pages

Tidak banyak orang awam di Indonesia yang paham bahwa anggaran negara, baik di tingkat nasional ataupun sub-nasional (propinsi, kabupaten, kota atau desa), sangat berpengaruh pada kehidupan sosial, ekonomi dan politik sehari-hari. Persoalannya karena ketidakpedulian masyarakat awam, ataupun tiadanya akses untuk memperoleh informasi yang memadai bagi semua lapisan masyarakat. Hal yang pertama dapat ditelusuri dari kurang antusiasnya reaksi atau tanggapan masyarakat terhadap pengumuman anggaran baik di tingkat nasional, propinsi ataupun kabupaten/kota. Hal yang kedua karena ketertutupan pemerintah untuk memberikan informasi yang rinci pada masyarakat, bahkan cenderung enggan mengumumkan dan mempublikasikannya secara luas. Ini adalah warisan masa lalu yang selalu menutupi rincian anggaran sampai pada pihak-pihak (instansi/dinas) yang bertanggung jawab membelanjakannya.

 

"Mengapa kita harus bekerja bersama-sama…
sudah menjadi keyakinan bahwa rakyat memiliki hak untuk mempengaruhi pilihan publik yang menentukan kehidupan kita. Anggaran publik merupakan instrumen utama yang digunakan pemerintah untuk mewujudkan keputusannya, dan masyarakat sipil memiliki kewajiban moral untuk menjamin bahwa rakyat turut menentukan proses tersebut."
- ( Jim Shultz - Columbia).

 

Tidak banyak orang awam di Indonesia yang paham bahwa anggaran negara, baik di tingkat nasional ataupun sub-nasional (propinsi, kabupaten, kota atau desa), sangat berpengaruh pada kehidupan sosial, ekonomi dan politik sehari-hari. Persoalannya karena ketidakpedulian masyarakat awam, ataupun tiadanya akses untuk memperoleh informasi yang memadai bagi semua lapisan masyarakat. Hal yang pertama dapat ditelusuri dari kurang antusiasnya reaksi atau tanggapan masyarakat terhadap pengumuman anggaran baik di tingkat nasional, propinsi ataupun kabupaten/kota. Hal yang kedua karena ketertutupan pemerintah untuk memberikan informasi yang rinci pada masyarakat, bahkan cenderung enggan mengumumkan dan mempublikasikannya secara luas. Ini adalah warisan masa lalu yang selalu menutupi rincian anggaran sampai pada pihak-pihak (instansi/dinas) yang bertanggung jawab membelanjakannya.

 

Masalah kita hadapi yaitu kemiskinan bukanlah sekedar persoalan kekurangan makan atau rendahnya penghasilan. Kemiskinan sebaiknya dipahami pula sebagai ketiadaan kemampuan individu atau kelompok untuk keluar dari kesulitan ekonomi, sosial dan politik karena terciptanya struktur masyarakat yang menindas dan kebijakan pemerintah yang mengungkung proses pembebasan dari penindasan. Ketiadaan ini menyebabkan kemampuan rakyat untuk mengakses keputusan yang strategis-termasuk penganggaran- sangat lemah dan cenderung tidak pernah diberdayakan. 

Mengapa Organisasi Non-Pemerintah perlu Mencermati Anggaran?

Peran dari Organisasi non-pemerintah sangat besar dalam memperkuat daya kritis masyarakat untuk terlibat dalam proses pengambilan keputusan khususnya penganggaran. Ada dua sisi yang harus diperhatikan dalam penganggaran. Pertama, di sisi penerimaan baik berupa penerimaan pajak, non-pajak dan hibah. Kedua, di sisi belanja berupa belanja pemerintah pusat dan dana perimbangan antara pemerintah pusat dan daerah. Belanja pemerintah pusat, demikian pula pada umumnya belanja pemerintah propinsi dan kabupaten/kota, terdiri dari belanja rutin (operasional) dan belanja pembangunan (investasi kapital). Belanja rutin utamanya untuk belanja pegawai, belanja barang dan perlengkapan kantor di departemen atau dinas-dinas di daerah. Sedangkan belanja pembangunan umumnya terbagi dalam sektor-sektor kegiatan yang terbagi dalam beberapa besaran seperti: pendidikan, industri, tenaga kerja, kesehatan, dan seterusnya.

 

Organisasi non-pemerintah dapat memberikan analisis dan informasi yang terandalkan (kredibel), membuka akses yang luas bagi masyarakat, dan memberikan sumbangan pemikiran bagi debat tentang anggaran pada saat yang tepat. Tentu saja peran ini harus ditujukan untuk mempengaruhi bagaimana isyu-isyu anggaran diarahkan, bagaimana membangun prioritas yang sesuai dengan tuntutan kaum miskin dan keputusan yang berpihak pada yang tertindas. Penentuan prioritas, bahkan sering ditandai dengan besarnya anggaran yang dialokasikan, menjadi indikator komitmen dari pemerintah terhadap masalah dan kebutuhan nyata dalam masyarakat. Sebab itu kepedulian pemerintah terhadap penderitaan masyarakat miskin harus pula ditandai dengan penajaman prioritas untuk memperkuat daya kemampuan masyarakat miskin dan tersingkir. Perubahan cara pandang harus dilakukan dan dapat dimulai oleh pemikiran yang kritis dan cermat dari masyarakat sipil untuk memahami anggaran.

 

Pada sisi penerimaan seperti pajak, non pajak (retribusi), serta pinjaman dari pihak lain (hutang) dapat saja menjadi instrumen yang akan membebani rakyat yang sudah menderita . Pemungutan pajak atau retribusi pada kelompok yang miskin dan tak berdaya secara sosial politik akan menimbulkan penindasan baru bagi mereka. Hal tersebut sama pentingnya mencermati hutang yang akan membebani kehidupan sosial ekonomi kita sekarang dan masa mendatang. Sebaliknya perhatian yang besar terhadap kegiatan yang langsung dinikmati oleh masyarakat miskin untuk membangun aset-aset mereka seperti pendidikan dasar, kesehatan, dan kredit mikro bisa mendukung proses pembebasan dari penindasan dan kemiskinan.

 

Organisasi non-pemerintah memiliki jejaring yang sangat luas. Hal ini menjadi satu modal dasar bagi proses gerakan massal yang bisa menggugah pemerintah, baik di tingkat nasional maupun sub-nasional (propinsi dan kabupaten/kota) untuk lebih memperhatikan kepentingan kaum lemah, miskin dan tertindas. Kelemahan utama dari Organisasi non-pemerintah adalah kurangnya keahlian, pengetahuan dan cenderung mencermati kegiatan parsial dalam lingkup regional yang terbatas. Untuk itu perlu suatu gerakan serentak dan berskala nasional dengan titik perhatian yang tetap mengacu pada kepentingan rakyat miskin di wilayah kerja masing-masing. Anggaran adalah pintu masuk (entry point) yang paling strategis untuk meningkatkan posisi tawar antara negara dan masyarakat sipil yang peduli dengan kemiskinan struktural.

 



IPCOS