WORK IN PROGRESS

Sorry for any inconvenience caused We are currently in the process of reconstructing the sites in our network. Do come back often to check on the progress

Text Size
Article Index
DPR Baru, Harapan Baru
Kritik dan Kecaman
Lagi, Kritik& Kecaman
Lagi-lagi
Akhirnya, Hal Positif
All Pages

DPR hasil Pemilu 2004 sudah mulai bekerja sejak 1 Oktober 2004. Setelah diselingi ramai-ramai soal pemilihan Pimpinan Komisi-Komisi, maka sudah waktunya mulai bekerja lebih fokus dan berbobot, untuk merealisasikan harapan-harapan baru yang mengiringi terpilihnya anggota DPR periode 2004-2009.

 

Pelaksanaan Pemilihan Umum selalu membawa harapan baru akan adanya penyegaran-penyegaran. Pemilu membuka jalan bagi sirkulasi elite politik. Para tokoh baru, pemimpin baru, pelaku politik baru muncul, yang diharapkan dapat melakukan penyegaran. Penyegaran tidak hanya pada orangnya tetapi juga pada sistem kerja dan kinerjanya. Karena itu, wajar saja bila ada DPR baru, ada harapan baru.

 

Apabila harapan tersebut terealisasi, dari periode ke periode akan tampak kemajuan demi kemajuan dalam kehidupan berdemokrasi dan penyelenggaraan pemerintahan. Hal tersebut berlaku pula pada pelaku pemerintahan di bidang eksekutif dan yudikatif. Harapan baru tersebut setidak-tidaknya mencakup dua hal. Pertama, tidak mengulangi kelemahan DPR periode sebelumnya. Kedua, membuat prestasi baru di bidang legislasi, penetapan anggaran negara dan pengawasan, yang lebih bermutu dan bermuatan pengarusutamaan kepentingan rakyat.

 

DPR periode 1999-2004 memulai tugasnya pada 1 Oktober 1999 dengan ekspektasi yang tinggi di awal era reformasi, dan mengahiri tugasnya pada 30 September 2004 dengan apresiasi yang tidak tinggi. DPR hasil Pemilu 1999 mulai menjadi bulan-bulanan kritik tajam sejak tahun kedua masa kerjanya. Sejak itu pula, DPR dan para anggotanya menjadi bulan-bulanan kritik tanpa jeda, termasuk terhadap soal-soal yang sebenarnya termasuk wilayah pribadi.

 

Ada yang melihat penyebab masalahnya dari aspek moralitas, ada pula yang mengamati dari aspek sistem kerja. Keduanya -- moralitas dan sistem kerja -- memang mempunyai pengaruh tetapi tidak terlalu produktif mempersoalkan yang mana yang lebih berpengaruh dibanding yang lain. Tidak terlalu produktif mempersoalkan yang mana yang lebih dulu -- ayam atau telur.

 

Sebagai ilustrasi, bisa dilihat orang-orang Indonesia yang berangkat ke Singapura dari Bandara Sukarno-Hatta. Ada sebagian yang sudah disiplin dan banyak yang belum disiplin untuk antre dan membuang sampah. Begitu sampai di Bandara Changi Singapura, semuanya menjadi disiplin. Yang sudah disiplin menjadi semakin disiplin, yang belum disiplin menjadi disiplin. Begitu pulang ke Indonesia, penyakit tidak disiplinnya kambuh lagi. Artinya, sistem yang baik akan membuat orang baik menjadi semakin baik, dan orang yang tidak baik menjadi berkurang keburukannya. Sistem yang tidak memadai, bisa membuat orang yang baik menjadi terpengaruh, dan orang yang tidak baik bertambah parah. Pembahasan tentang moralitas anggota DPR sudah terlalu banyak dan beragam. Tulisan ini lebih memfokuskan pada sistem kerja dalam kerangka pengembangan sistem (system building).



IPCOS